Mempelajari Tanggung Jawab Hukum Pihak Ketiga pada Asuransi Mobil

Dalam asuransi mobil, ada istilah Tanggung Jawab Hukum Pihak Ketiga atau TJH III. Apa itu TJH III? TJH III merupakan pemberian ganti rugi kepada pihak ketiga atas kerugian yang mereka derita diakibatkan oleh mobil yang diasuransikan. Apa pun jenis perlindungan yang Anda pilih entah All Risk atau TLO, hendaknya menambahkan perlindungan perluasan ini dalam polis. Terutama ketika Anda tinggal di perkotaan dengan tingkat kecelakaan di jalan raya semakin tinggi karena sarat akan kepadatan lalu lintas serta perilaku buruk pengendara yang suka ngebut. Agar tidak timbul kesalahpahaman dikemudian hari, hendaknya mempelajari hal-hal terkait TJH III pada asuransi mobil sbb:

Hal yang dijamin & tidak dijamin

Bukan sebatas memberikan pertanggungan atas kerusakan kendaraan pihak ketiga, melainkan TJH III juga mengcover kerugian pihak ketiga atas kerusakan harta benda, luka badan, bahkan sampai kematian. Jika pihak ketiga menggunakan jasa supir, hal buruk yang terjadi pada supir juga masuk dalam pertanggungan. TJH III masih tetap berlaku meskipun mobil dibawa oleh orang lain yang telah memperoleh izin dari Anda sebagai tertanggung. Namun, untuk mobil digunakan untuk belajar mengemudi, ikut kampanye, penumpang di mobil yang diasuransikan, pihak ketiga tidak lain orang-orang yang mendapatkan upah dari tertanggung, atau pihak ketiga yang merupakan pasangan atau anak-anak dikecualikan dalam perlindungan TJH III.

Batasan uang pertanggungan

Perusahaan umumnya telah menetapkan batasan uang pertanggungan untuk perlindungan TJH pihak ketiga di antaranya 10 juta, 25 juta, 50 juta, hingga 100 juta. Anda bisa mengajukan uang pertanggungan yang tinggi selama disetujui oleh perusahaan asuransi. Perlu diketahui bahwa ketika kerugian yang dialami oleh pihak ketiga atas kendaraan, supir, atau penumpang mobil melebihi uang pertanggungan yang disetujui oleh pihak asuransi, selisihnya akan menjadi tanggungan Anda atau sesuai dengan kesepakatan Anda dengan pihak ketiga nantinya.

Prosedur klaim

Agar klaim TJH III bisa dicairkan, Anda harus mengikuti prosedur klaim yang telah ditetapkan oleh perusahaan asuransi.

  • Ketika Anda menabrak pengendara lain karena alasan apa pun, hendaknya segera menghubungi pihak perusahaan. Disarankan tidak mengambil alih tanggung jawab atas kerugian yang dialami oleh pihak ketiga sebelum mendapatkan persetujuan dari pihak asuransi.
  • Selanjutnya, Anda akan melakukan kesepakatan dengan salah satu pihak asuransi mengenai kapan & di mana akan melakukan survei.
  • Dalam pertemuan ini, Anda juga bakal mengisi laporan kerugian sekaligus melengkapi dokumen lainnya seperti polis asuransi yang masih aktif, surat keterangan dari pihak kepolisian, SIM, dan lain sebagainya.
  • Setelah surveyor menerbitkan Surat Perintah Estimasi (SPE), Anda akan membawanya ke bengkel rekanan perusahaan asuransi.

Ketika kecelakaan mengakibatkan supir atau penumpang dari pihak ketiga mengalami cedera, Anda bisa melampirkan kuitansi pembayaran sebagai dokumen pengajuan klaim.

Pembatalan pertanggungan

Tidak semua kasus Tanggung Jawab Pihak Ketiga diterima oleh perusahaan asuransi. Ada beberapa kasus pengajuan klaim TJH III yang dibatalkan. Mengapa? Hal ini lantaran mobil yang diasuransikan menabrak kendaraan lain yang juga memiliki perlindungan asuransi kendaraan. Kalau demikian, masing-masing kendaraan harus mengajukan klaim pada perusahaan asuransi yang dipercayakan sebagai pentransfer resiko.

Hambatan sebelum Mengajukan Klaim Asuransi Mobil

Mengajukan klaim asuransi itu tidak begitu sulit selama para pemegang polis mengikuti prosedur pengajuan klaim yang sudah ditetapkan oleh pihak asuransi. Sayangnya, sebagian pemegang polis cukup kesulitan untuk mengajukan klaim karena mereka memiliki sejumlah masalah dengan berkas-berkas yang nantinya dibutuhkan sebagai syarat agar klaim bisa diterima. Tahukah Anda apa saja masalah atau hambatan mereka sehingga mereka kesulitan atau bahkan tidak bisa mengajukan klaim untuk polis car insurance yang mereka miliki? Temukan jawabannya di bawah ini:

Polis hilang

Tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini karena manusia akan sering melakukan kesalahan. Di samping itu mereka pun kerap sekali lupa dengan sesuatu yang sudah mereka kerjakan. Ya, hal ini pun berlaku terhadap polis asuransi yang mereka pegang di mana mereka bisa saja menghilangkan polis tersebut dengan berbagai alasan baik sengaja atau pun tidak sengaja. Sebagai contoh, mereka dengan sengaja meletakkan dokumen tersebut di dalam tas dan tas tersebut disimpan rapat di dalam lemari. Ketika mereka membutuhkan dokumen tersebut, mereka lupa di mana meletakkannya. Ada juga yang harus mau tidak mau mengalami masalah kehilangan karena suatu bencana, seperti banjir atau kebakaran. Ya, tidak dapat dipungkiri bahwasannya bila rumah sudah terendam banjir atau dilahap di jago merah, semua aset termasuk dokumen tersebut akan rusak atau bahkan tak berbekas lagi.

Lalu, apa yang sebaiknya dilakukan oleh pemegang polis bila kehilangan polisnya dengan alasan tertentu? Jawabannya adalah segera melaporkan kehilangan tersebut ke perusahaan asuransi. Ingat jangan ditunda-tunda selagi masalah ini belum terlupakan. Bila memang baru menyadari masalah ini ketika mau mengklaim, sebaiknya tetap melaporkan perkara ini. Tidak perlu khawatir selama Anda masih menjadi nasabah aktif karena pihak asuransi tentu memegang salinan berkas Anda. Mereka akan mengganti berkas tersebut secepat mungkin sehingga Anda bisa mengajukan klaim atau mereka akan mempersilahkan Anda untuk mengajukan klaim tanpa berkas tersebut.

SIM dan STNK yang sudah tidak aktif atau hilang

Beberapa orang sengaja tidak memperpanjang SIM dan STNK mereka karena mereka berpikir bahwa hal tersebut akan membuat mereka menghabiskan banyak uang. Sementara itu, beberapa orang lainnya tidak sengaja tidak memperpanjang kedua berkas tersebut karena tidak tahu masa aktifnya. Apapun alasannya, kedua berkas ini dibutuhkan ketika hendak klaim. Bagaimana bila hilang? Tentu saja nasabah diharapkan untuk segera mengurus berkas tersebut agar ketika mengajukan klaim, mereka bisa langsung melengkapi semua berkas. Bagaimana bila kedua berkas hilang ketika mengalami kerugian? Harap melapor ke pihak yang berwajib dan minta surat keterangan sementara. Ketika mengajukan klaim nantinya, diharapkan juga untuk memberikan penjelasan terkait hilangnya berkas tersebut.

Di sisi lain, apabila SIM dan STNK sudah tidak aktif ketika mengajukan klaim, pihak asuransi bisa saja menolak klaim karena menganggap bahwa pemilik mobil tidak memiliki izin mengendarai kendaraan yang jelas. Solusi untuk menghindari hal ini adalah segera memperpanjang kedua berkas itu agar keduanya bisa aktif dan digunakan kembali. Memang butuh dana yang tidak sedikit untuk mengaktifkan kedua dokumen ini karena ada denda yang akan dikenakan, khususnya untuk STNK yang sudah tidak aktif untuk waktu yang lama. Namun, bila ingin klaim yang diajukan diterima, mau tidak mau nasabah harus berkorban untuk mengaktifkan dokumen itu.

Semoga, dengan mengetahui informasi di atas, para pemegang polis bisa mempersiapkan berkas-berkas yang dibutuhkan sebelum mengajukan klaim dengan optimal sehingga klaim mereka bisa diterima.